Pernah merasa tenggorokan perih, mulut pahit, atau dada terasa panas seperti terbakar? Banyak orang menyebutnya panas dalam, tapi tahukah Anda kalau keluhan ini bisa jadi disebabkan oleh naiknya asam lambung?
Sayangnya, masih banyak yang keliru mengira panas dalam selalu berkaitan dengan kurang minum atau makanan pedas saja. Padahal, asam lambung yang naik bisa memicu gejala panas dalam yang cukup khas dan berbeda dengan penyebab lainnya.
Lalu, apa saja ciri-ciri panas dalam akibat asam lambung yang perlu diwaspadai? Cek penjelasan lengkapnya di artikel ini agar Anda bisa membedakan penyebabnya dan tahu cara menanganinya dengan tepat.
Apa Itu Panas Dalam dan Hubungannya dengan Asam Lambung?
Secara medis, istilah “panas dalam” sebenarnya tidak ada. Istilah ini lebih merupakan sebutan umum yang digunakan masyarakat untuk menggambarkan kumpulan gejala seperti tenggorokan perih, nyeri saat menelan, atau rasa panas di dada dan tenggorokan.
Menurut Alodokter, gejala ini bisa disebabkan oleh peradangan, iritasi, atau infeksi ringan di saluran napas atas.
Salah satu penyebab yang sering memicu gejala panas dalam adalah kenaikan asam lambung, terutama pada penderita maag atau GERD.
Saat asam lambung naik ke kerongkongan, ia bisa menyebabkan iritasi yang terasa seperti panas atau terbakar di dada, dan inilah yang kerap diartikan sebagai “panas dalam” oleh masyarakat.
Namun, penting dipahami bahwa tidak semua panas dalam disebabkan oleh asam lambung. Gejalanya juga bisa muncul akibat infeksi virus, flu, ISPA, alergi, radang amandel, atau paparan asap rokok.
Jadi, untuk memastikan penyebabnya, penting melihat gejala secara menyeluruh dan menyesuaikannya dengan riwayat kesehatan Anda, termasuk apakah Anda memiliki gangguan lambung sebelumnya atau tidak.
Ciri-Ciri Panas Dalam yang Disebabkan oleh Asam Lambung Naik
Memahami bahwa panas dalam bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, ada alergi, dan lain sebagainya sesuai penjelasan sebelumnya. Maka gejala atau ciri-ciri dari panas dalam memiliki sifat khas yang tergantung pada apa yang menyebabkannya.
Jika Anda sedang mengalami panas dalam dan menduga penyebabnya adalah lambung, berikut beberapa ciri khas yang perlu diperhatikan. Kali ini dijelaskan secara lebih lengkap agar kamu bisa mengenali gejalanya secara lebih akurat:
1. Rasa Panas atau Terbakar di Ulu Hati (Heartburn)
Rasa terbakar di dada bagian bawah atau ulu hati, yang semakin terasa setelah makan atau saat berbaring, adalah gejala khas heartburn. Menurut Mayo Clinic, sensasi ini biasanya muncul setelah makan, di malam hari, atau saat Anda membungkuk atau berbaring.
Penyebabnya adalah asam lambung yang naik ke kerongkongan akibat katup LES tidak berfungsi sempurna. Ketika asam mengiritasi mukosa esofagus, timbullah sensasi panas yang tajam, tepat seperti “panas dalam di dada” yang sering Anda rasakan .
Kalau Anda merasakan gejala ini lebih dari dua kali seminggu, Mayo Clinic menyarankan untuk berkonsultasi dokter karena bisa jadi tanda GERD yang memerlukan penanganan medis .
2. Nyeri Dada atau Sensasi Tekanan di Bagian Tengah
Kadang gejala refluks bukan hanya terasa terbakar, tapi terasa seperti tekanan atau “sesak” di dada tengah. Mayo Clinic mencatat nyeri ini sering muncul bersamaan heartburn dan sensasi terbakar.
Menurut studi dalam jurnal MDPI, nyeri dada non-kardiak adalah manifestasi umum GERD, dan sering salah dikira gejala jantung. Karena itu, jika Anda merasakan tekanan dada yang parah, penting untuk lakukan pemeriksaan medis agar tidak terlewat kondisi serius.
3. Sensasi Tercekat & Gatal di Tenggorokan (Globus Sensation)
Anda mungkin merasa seperti ada “benjolan” atau rasa tercekat di tenggorokan—meski sebenarnya tidak ada apa-apa. Harvard Health menyebut gangguan ini sebagai globus sensation, yang kerap terjadi saat asam naik sampai ke area laring atau faring dan mengiritasi saraf di sekitar tenggorokan.
Studi dalam Frontiers in Medicine juga mencatat bahwa refluks dapat memicu batuk refleks bahkan saat tidak ada infeksi di saluran napas Rasa tercekat ini biasanya lebih terasa saat malam, membuat Anda gampang terbangun akibat refleks batuk.
4. Batuk Kering Kronis Tanpa Flu
Batuk yang datang terus-menerus, terutama di malam hari, padahal Anda tidak demam atau pilek jelas bisa disebabkan oleh refluks asam. AGA memperkirakan hingga 40% pasien batuk kronik terkait dengan GERD .
Kondisi ini bisa muncul akibat asam yang mengiritasi saluran napas atau memicu refleks saraf vagal. Menurut meta-analisis klinis, batuk akan mereda jika refluks ditangani dengan obat PPI atau perubahan gaya hidup .
5. Rasa Asam atau Pahit di Mulut
Tidak jarang setelah bangun tidur, Anda merasakan rasa asam atau pahit di mulut. Mayo Clinic menyebut ini sebagai “backwash” asam lambung yang naik ke tenggorokan dan mulut .
Nah, saat tidur, posisi berbaring melemahkan LES, sehingga asam mudah naik. Ini juga salah satu tanda GERD yang cukup jelas, apalagi jika disertai gejala heartburn dan batuk .
6. Mual & Cepat Kenyang (Bloating & Early Satiety)
Asam lambung yang tidak terkontrol bisa menyebabkan perlambatan pengosongan lambung, memunculkan sensasi mual, cepat kenyang, dan perut terasa penuh. Kondisi ini sering menyertai refluks kronis .
Studi jurnal Journal of Thoracic Disease juga merekomendasikan makan porsi kecil dan hindari makanan pemicu untuk mengurangi gejala tersebut
7. Sendawa Berlebihan (Belching)
Sendawa adalah mekanisme tubuh untuk melepaskan gas lambung. Pada pasien GERD, frekuensinya meningkat karena gas menumpuk akibat fermentasi serta naiknya asam lambung .
Jika sendawa ini terjadi bersamaan gejala heartburn atau nyeri ulu hati, kemungkinan besar penyebabnya adalah refluks. Ini bukan sekadar kembung biasa, namun bentuk reaksi tubuh terhadap asam lambung.
8. Nafas Pendek dan Suara Serak
Kairan asam yang naik ke tenggorokan dapat mengiritasi pita suara dan saluran napas atas, menyebabkan suara serak, suara berat, hingga napas berbunyi atau wheezing .
Jurnal Frontiers in Medicine mengungkap bahwa radang saraf vagus akibat refluks bisa memicu batuk, mengi, dan iritasi langgeng.
9. Gangguan Tidur Akibat Refluks
Saat berbaring, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan, memicu heartburn, batuk, atau sensasi gatal tenggorokan yang membangunkan Anda .
Mayo Clinic dan Harvard merekomendasikan tidur dengan kepala terangkat dan menghindari makan 2–3 jam sebelum tidur untuk mencegah ini.
10. Sensasi Tercekik atau Kram di Ulu Hati
Beberapa penderita merasa otot kerongkongan berkontraksi seperti kram atau cekikan karena iritasi asam. Ini bisa terjadi saat mucosa esofagus mengalami peradangan.
Jika Anda merasakan kesulitan menelan atau sensasi seperti “cekik” terus-menerus, penting untuk segera memeriksakan diri agar tidak berkembang menjadi esofagitis atau striktur.
Bedanya Panas Dalam Biasa dengan yang Disebabkan Asam Lambung
Meski sama-sama disebut “panas dalam”, gejala yang Anda rasakan bisa berasal dari penyebab yang sangat berbeda. Dua di antaranya yang paling umum adalah panas dalam akibat infeksi (seperti ISPA) dan panas dalam akibat naiknya asam lambung.
Untuk membantu Anda membedakan keduanya dengan lebih jelas, berikut ini tabel perbandingannya:
Aspek Perbandingan | Panas Dalam Akibat Asam Lambung | Panas Dalam Biasa (Infeksi/IRR) |
---|---|---|
Penyebab Utama | Refluks asam lambung (GERD, maag) yang naik ke kerongkongan | Infeksi virus, bakteri, atau iritasi (seperti asap rokok atau alergi) |
Lokasi Gejala | Ulu hati, dada bagian tengah, dan kerongkongan | Tenggorokan, amandel, dan saluran napas atas |
Gejala Khas | Rasa panas/terbakar di dada (heartburn), nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, batuk malam, gangguan tidur | Tenggorokan gatal, suara serak, batuk berdahak, hidung tersumbat, demam ringan |
Waktu Kemunculan | Cenderung muncul setelah makan besar, konsumsi makanan pedas/berlemak, atau saat berbaring | Bisa muncul kapan saja, sering diawali flu, ISPA, atau kontak dengan alergen |
Pemicu Tambahan | Pola makan buruk, stres, telat makan, posisi tidur | Infeksi virus (flu), bakteri, udara kering, asap rokok, polusi |
Respons terhadap Obat | Merespons obat lambung atau herbal antirefluks | Merespons obat demam, batuk, antibiotik (jika infeksi bakteri) |
Kemungkinan Riwayat | Riwayat maag, GERD, sering telat makan, atau lambung sensitif | Riwayat ISPA berulang, alergi, atau lingkungan dengan kualitas udara buruk |
Itulah penjelasan lengkap mengenai perbedaan panas dalam akibat asam lambung dengan panas dalam biasa. Keduanya memang memiliki gejala yang mirip di permukaan, namun jika diperhatikan lebih dalam, penyebab dan ciri-cirinya sangat berbeda.
Mengenali perbedaannya sejak awal sangat penting, supaya penanganan yang Anda lakukan benar-benar sesuai dengan kondisi yang dialami.
Jika Anda sering mengalami panas dalam disertai sensasi terbakar di dada, nyeri ulu hati, atau rasa pahit di mulut, bisa jadi itu pertanda asam lambung yang bermasalah. Jangan ragu untuk berkonsultasi agar mendapat penanganan lebih tepat.
Selain itu, Anda juga bisa mempertimbangkan solusi herbal alami seperti VG‑CARE, yang diformulasikan khusus untuk membantu meredakan gejala asam lambung sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna secara menyeluruh. Dengan dukungan herbal yang tepat, kualitas hidup Anda pun bisa tetap terjaga tanpa khawatir gangguan lambung kembali kambuh.
Jaga kesehatan pencernaan Anda mulai sekarang, sebelum gejala kecil berubah jadi masalah serius.
Dapatkan informasi penting seputar kesehatan lambung lainnya, dalam kumpulan artikel berikut ini.